“Intinya sekarang kita harus mengembangkan desa. Pemerintah memiliki kewenangan, kampus menghadirkan pengetahuan, dunia usaha membuka peluang investasi, dan masyarakat menjadi pelaku pembangunan. Kalau semuanya berkolaborasi, dampaknya akan jauh lebih besar,” ujarnya.
Gubernur Mirza juga menilai arah kebijakan nasional, khususnya penguatan kedaulatan pangan, mulai memberikan dampak positif bagi Lampung yang memiliki basis ekonomi pertanian cukup kuat.
Ia menyebut sebagian besar masyarakat Lampung masih bergantung pada sektor pertanian, terutama komoditas padi, jagung, dan singkong. Karena itu, peningkatan kesejahteraan petani akan memberikan dampak langsung terhadap konsumsi dan aktivitas ekonomi daerah.
Namun, Gubernur mengingatkan bahwa momentum tersebut harus diikuti dengan transformasi ekonomi yang lebih berkelanjutan.
“Kita tidak boleh hanya menikmati harga komoditas yang bagus. Kita harus mendesain ulang struktur ekonomi agar masyarakat memperoleh nilai tambah yang lebih besar,” katanya.
Menurutnya, pembangunan ekonomi ke depan harus diarahkan agar masyarakat tidak hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi juga menjadi pelaku pengolahan dan pemilik nilai tambah.
Menutup sambutannya, Gubernur Mirza kembali menegaskan kesiapan Pemerintah Provinsi Lampung untuk membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi swasta.
Ia mengajak seluruh perguruan tinggi tidak hanya melihat Lampung sebagai tempat penyelenggaraan pendidikan, tetapi sebagai ruang bersama untuk mengembangkan inovasi, meningkatkan kualitas SDM, memperkuat ekonomi desa, dan menciptakan lapangan kerja
“Pemerintah memiliki kewenangan, kampus menghadirkan pengetahuan, dunia usaha membuka peluang investasi, dan masyarakat menjadi pelaku pembangunan. Mari kita satukan kekuatan itu untuk mempersiapkan masa depan Indonesia,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Umum APTISI Prof. Dr. Ir. H. M. Budi Djatmiko, M.Si., M.E.I., dalam sambutannya menyampaikan bahwa perguruan tinggi sedang menghadapi perubahan besar akibat perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial (AI).
Menurutnya, proses pembelajaran kini tidak lagi hanya berlangsung di ruang kelas. Pengetahuan dapat diperoleh dari berbagai sumber, termasuk teknologi digital dan media sosial.
“Dulu kita belajar hanya kepada dosen dan guru. Sekarang ilmu ada di mana-mana. Karena itu, kampus harus mampu menyesuaikan diri,” katanya.
Budi menilai perguruan tinggi harus mulai mengubah paradigma pendidikan dari sekadar berorientasi pada proses pembelajaran menuju outcome-based education, yakni pendidikan yang menekankan capaian kompetensi dan hasil nyata yang dimiliki mahasiswa.
Ia juga mengingatkan bahwa perkembangan AI berpotensi mengubah banyak pekerjaan dan model pembelajaran secara cepat. Karena itu, perguruan tinggi harus berani melakukan inovasi dan tidak terjebak pada sistem pendidikan yang sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman.
Menurutnya, salah satu hal yang tetap menjadi kekuatan perguruan tinggi di tengah perkembangan teknologi adalah pendidikan karakter dan akhlak.